I’tikaf

I’tikaf merupakan khalwat Rabbani dan latihan ruhani,dimana sesorang menyendiri di masjid, jauh dari pergaulan sesama makhluk demi cintanya kepada ALLAH SWT. Disana ia mengingat Allah dan mengagumi ciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan keagungan-Nya. Kepada-Nya ia berdoa dan bermunajat serta mengaharap pahala dan memohon agar dirinya dan keluarganya dijauhkan dari siksa-Nya. Dengan segala kerendahan hati, ia memohon diselamatkan dari kobaran api jahanam yang panasnya tiada terkira.

Dalil disyariatkannya i’tikaf ialah firman ALLAH

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:” Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku, dan yang sujud” (QS. Al Baqarah 125).

Adapun dari As-Sunnah antara lain adalah:

Dari Aisyah r.a. ia berkata: rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sampai saat ia dipanggil ALLAH Azza wa Jalla (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhit bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebuah hadis yang berasal dari Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa:
Adalah Rasulullah SAw, apabila masuk sepuluh hari, ialah sepuluh hari yang terakhir dalam bulan Ramadhan, beliau menjauhi istrinya, dan menghidupkan malamnya, dan membangunkan ahli rumahnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dari Aisyah pula, ia berkata; “Adalah Nabi SAW apabila beliau hendak ber-i’tikaf, beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikafnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain, yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan:
Dan dari Aisyah r.a., dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa ber-i’tikaf karena iman dan ikhlas, maka diampunilah dosanya yang telah lewat.”

Kata i’tikaf berasal dari kata ‘akafa alaihi, artinya, ia senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi itu atau setia kepada itu. Secara harfiah kata i’tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar’iyah kata i’tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama hari-hari itu, mu’takif yaitu orang yang menjalani i’tikaf, mengasingkan diri dari segala urusan duniawi, dan menggantinya dengan kesibukan ibadah dan zikir kepada ALLAH dengan sepenuh hati. Dengan i’tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada ALLAH dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya,
dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.

Wallahu’alam…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s