10 hal tentang Antibiotika

Sumber : Dr. Handrawan Nadesul


Antibiotika tentu bukan sesuatu yang asing. Namun,
bagaimana antibiotika selayaknya digunakan, tak semua orang tahu.

1. Apa sebetulnya manfaat
antibiotika?
Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk
melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula. Kuman cenderung bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, di
paru-paru, di usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok, dan lainnya.

Di organ-organ tempat bersarangnya itu, kuman tertentu menimbulkan infeksi.
Kuman tipus menimbulkan penyakit tipus di usus, kuman TBC di paru-paru, selain
bisa juga di tulang, ginjal, otak, dan kulit. Kuman lepra di saraf dan kulit,
kuman difteria di tenggorokan, tetanus di saraf, dan banyak lagi

Awalnya, ditemukan jenis antibiotika penisilin,
lalu sulfa, yang digunakan untuk mengobati semua penyakit infeksi. Sekarang,
sudah berpuluh-puluh jenis antibiotika ditemukan, baik dari rumpun yang sama,
maupun dari jenis yang lebih baru. Setiap antibiotika memiliki kemampuannya
sendiri dalam melawan kuman. Itu sebab, setiap rumpun kuman memiliki
penangkalnya masing-masing yang spesifik. Namun, kebanyakan antibiotika bersifat
serba mempan atau broadspectrum. Artinya, semua kuman dapat
dibasminya.

Selain itu, ada pula jenis antibiotika yang sempit
pemakaiannya, spesifik hanya untuk kuman-kuman tertentu saja. Misalnya,
antibiotika untuk kuman TBC (mycobacterium tuberculosis) , untuk lepra atau kusta
(mycobaterium leprae), atau untuk tipus (salmonella tyhphi).

2. Kapan antibiotika
digunakan?
Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman.
Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu
masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman,
lewat udara napas memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui
hubungan kelamin, atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang
disukainya untuk bersarang.

Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu
badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan
reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri. Contohnya bisul. Di
usus,
bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok,
atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing
merah atau seperti susu.

Namun, gejala suhu tubuh meninggi, demam, nyeri
kepala, dan nyeri, bisa juga bukan disebabkan oleh kuman, melainkan infeksi oleh
virus atau parasit. Dari keluhan, gejala dan tanda, dokter dapat mengenali
apakah infeksi disebabkan oleh kuman, virus, atau parasit.

Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak
mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus, dan untuk
parasit diberi antinya, seperti antimalaria, antijamur, dan anticacing. Jika
infeksi oleh jenis kuman yang spesifik, biasanya dokter langsung memberikan
antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus,
difteria, tipus, atau infeksi mata merah.

Untuk infeksi yang meragukan, diperlukan
pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan
melakukan pembiakan (kultur) kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air
liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan
kulit.

Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis
kumannya, dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk
menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih
tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap
mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika
yang dianggap ampuh tersebut.

3. Kenapa semakin banyak kuman yang kebal
antibiotika?
Pemakaian antibiotika di negara-negara sedang
berkembang sering tidak terkontrol dan cenderung serampangan. Antibiotika yang
bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian, dan tidak dipakai sampai tuntas,
menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika
yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu. Pemakaian antibiotika
yang tidak dihabiskan, atau menebusnya setengah resep, misalnya.

Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu
antibiotika, semakin cepat menimbulkan kekebalan kuman yang biasa ditumpasnya.
Pemakaian antibiotika golongan erythromycine yang paling banyak dan luas dipakai
di dasawarsa 80-an, semakin banyak melahirkan generasi kuman yang kebal
terhadapnya. Lalu, dibuat generasi baru dari rumpun yang sama. Setiap beberapa
tahun, lahir jenis generasi antibiotika baru untuk membasmi jenis kuman yang
sudah kebal. Tentu, dengan harga yang lebih mahal.

4. Apa efek samping
antibiotika?
Seperti obat umumnya, antibiotika juga punya efek
samping masing-masing. Ada yang berefek buruk terhadap ginjal, hati, ada pula
yang mengganggu keseimbangan tubuh. Dokter mengetahui apa efek samping suatu
antibiotika, sehingga tidak diberikan pada sembarang pasien. Pasien dengan
gangguan hati, misalnya, tidak boleh diberikan antibiotika yang efek sampingnya
merusak hati, sekalipun ampuh
membasmi kuman yang sedang pasien idap. Dokter
perlu memilihkan antibiotika lain, mungkin kurang ampuh, namun tidak berefek
pada hati.

Namun, jika suatu antibiotika tidak ada
penggantinya, antibiotika tetap dipakai, dengan catatan, bahaya efek samping
pada seorang pasien memerlukan monitoring oleh dokter, jika dipakai untuk jangka
waktu yang lama. Antibiotika untuk TBC, misalnya, yang diminum sedikitnya 6
bulan, perlu pemeriksaan fungsi hati secara berkala, agar jika sudah merusak
hati, obat dipertimbangkan untuk diganti.

5. Apa bahaya terlalu sering menggunakan
antibiotika?
Pemakaian antibiotika yang terlalu sering tidak
dianjurkan. Di negara kita, orang bebas membeli antibiotika dan memakainya kapan
dianggap perlu. Sedikit batuk pilek, langsung minum antibiotika. Baru mencret
sekali, langsung antibiotika. Padahal belum tentu perlu. Kenapa?

Belum tentu batuk pilek disebabkan oleh kuman.
Awalnya oleh virus. Jika kondisi badan kuat, penyakit virus umumnya sembuh
sendiri. Yang perlu dilakukan pada penyakit yang disebabkan oleh virus
adalah
memperkuat daya tahan tubuh dengan cukup makan, istirahat, dan makanan
bergizi. Pemberian antibiotika pada batuk pilek yang disebabkan oleh virus hanya
merupakan penghamburan dan merugikan badan, sebab memikul efek samping
antibiotika yang sebetulnya tak perlu terjadi.

Kasus batuk pilek virus yang sudah lama, yang
biasanya sudah ditunggangi oleh kuman, baru membutuhkan antibiotika untuk
membasmi kumannya, bukan untuk virus flunya. Tanda batuk pilek membutuhkan
antibiotika adalah dengan melihat ingusnya. Yang tadinya encer bening sudah
berubah menjadi kental berwarna kuning-hijau. Selama ingusnya masih encer
bening, antibiotika tak diperlukan.

Minum antibiotika kelewat sering juga mengganggu
keseimbangan flora usus. Kita tahu, dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu
pencernaan dan pembentukan vitamin K. Selain itu, di bagian-bagian tertentu
tubuh kita juga hidup kuman-kuman jinak yang hidup berdampingan dengan damai
dengan tubuh kita. Di kemaluan wanita, di kulit, di mulut, dan di mana-mana
bagian tubuh ada kuman yang tidak mengganggu namun bermanfaat
(simbiosis).

Terlalu sering minum antibiotika berarti membunuh
seluruh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh. Jika populasi kuman jinak yang
bermanfat bagi tubuh terbasmi, keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu,
sehingga jamur yang tadinya takut oleh kuman-kuman yang ada di tubuh kita
berkesempatan lebih mudah menyerang.

Itu maka, banyak orang yang setelah minum
antibiotika yang kelewat lama, kemudian terserang penyakit jamur. Bisa jamur di
kulit, usus, seriawan di mulut, atau di mana saja. Keputihan sebab jamur pada
wanita, antara lain lantaran vagina kelewat bersih oleh antisepsis yang membunuh
kuman bermanfaat di sekitar vagina (Doderlein).

6. Berapa lama seharusnya konsumsi
antibiotika?
Lama pemakaian antibiotika bervariasi, tergantung
jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Paling sedikit 4-5 hari. Namun, jika
infeksinya masih belum tuntas, antibiotika perlu dilanjutkan sampai keluhan dan
gejalanya hilang. Pada tipus, perlu beberapa minggu. Demikian pula pada
difteria, tetanus. Pling lama pada TBC yang memakan waktu berbulan-bulan.
Termasuk pada kusta.

Pada infeksi tertentu, setelah pemakaian
antibiotika satu kir, perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman ulang untuk
memastikan apakah kuman sudah terbasmi tuntas. Infeksi saluran kemih, misalnya,
setelah selesai satu kir antibiotika dan keluhan gejalanya sudah tiada, biakan
kuman dilakukan untuk melihat apa di ginjal masih tersisa kuman. Jika masih
tersisa kuman dan antibiotikanya tidak dilanjutkan, penyakit infeksinya akan
kambuh lagi.

Termasuk pada infeksi gigi. Sakit gigi biasanya
disebabkan oleh adanya kuman yang memasuki gusi dan tulang rahang melalui gigi
yang bolong atau keropos. Dalam keadaan demikian, gusi membengkak dan gigi
nyeri. Antibiotika diberikan sampai keluhan nyeri gigi hilang. Jika antibiotika
hanya diminum sehari-dua, kuman di dalam gusi belum mati semua, sehingga infeksi
gusi dan sakit gigi akan kambuh lagi.

7. Kenapa antibiotika bisa tidak
mempan?
Antibiotika tidak mempan karena dua hal. Yang
paling sering, kuman penyebab penyakitnya sudah kebal terhadap antibiotika
tersebut. Untuk itu perlu dicari antibiotika jenis lain yang lebih sensitif.
Biasanya perlu dilakukan tes resistensi mencari jenis antibiotika yang
tepat.

Yang kedua karena tidak dilakukan tes resistensi
dulu dan langsung diberikan antibiotika secara acak, sehingga kemungkinan
pilihan antibiotikanya tidak tepat untuk jenis kuman penyebab penyakitnya.
Antibiotikanya memang tidak mempan terhadap kuman penyebabnya.

Kita mengenal ada kuman jenis gram-negatif. Untuk
itu perlu antibiotika untuk jenis kuman itu. Jika diberikan antibiotika untuk
jenis kuman gram-positif, tentu tidak akan mempan, sebab antibiotikanya salah
sasaran. Atau bisa oleh karena infeksinya bukan disebabkan oleh kuman, melainkan
oleh virus atau parasit. Jamur kulit tak mempan diberi salep atau krim
antibiotika, misalnya.

8. Apa artinya antibiotika yang
keras?
Artinya tidak perlu antibiotika dari generasi yang
baru, kalau dengan antibiotika klasik (golongan penicillin) masih mempan. Namun,
untuk infeksi ringan saja (flu), seringkali diberikan antibiotika generasi
mutakhir. Selain jauh lebih mahal, tubuh pun memikul efek samping yang biasanya
lebih berat. Semakin ampuh antibiotika, biasanya semakin keras pula efek
sampingnya. Membunuh lalat tak perlu pakai panah, cukup ditepuk. Begitu pula
untuk infeksi enteng. Kalau bisa, jangan lekas-lekas memakai antibiotika. Tubuh
kita memiliki perangkat antibodi. Setiap bibit penyakit, apa pun jenisnya, yang
masuk ke dalam tubuh, akan dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Tubuh
baru menyerah kalah jika bibit penyakitnya sangat ganas, jumlahnya banyak, dan
daya tahan tubuh sedang lemah.

Tidak setiap kali dimasuki bibit penyakit, tubuh
kita akan jatuh sakit. Jika kekebalan tubuh prima, bibit penyakit yang sudah
memasuki tubuh akan gagal menginfeksi, dan kita batal jatuh sakit. Infeksi
umumnya baru terjadi jika tubuh sedang lemah. Untuk itu, perlu bantuan zat anti
yang dikirim dari luar. Kiriman zat anti dari luar itulah yang diperankan oleh
antibiotika.

9. Kenapa orang bisa pingsan usai minum
atau disuntik antibiotika?
Adakalanya, sehabis minum atau disuntik antibiotika
bisa pingsan. Orang-orang tertentu yang berbakat alergi, umumnya tidak tahan
terhadap antibiotika golongan penisilin, baik yang diminum maupun yang
disuntikkan. Beberapa menit sampai beberapa jam sesudahnya muncul reaksi alergi.
Rasa tebal dan gatal di bibir, pusing, mual, muntah, lalu pingsan. Jika ringan
hanya gatal-gatal mirip biduran. Reaksi hebat bisa menimbulkan reaksi kulit
melepuh, berbisul-bisul (Steven-Johnson syndrome).

Bagi yang berbakat alergi, perlu dites dulu sebelum
mendapat suntikan antibiotika golongan penisilin. Jika positif, jangan
diberikan. Atau jika pernah ada riwayat gatal sehabis minum atau disuntik
antibiotika, buatlah catatan, agar lain kali dapat mengingatkan dokter kalau
tidak tahan antibitioka tersebut. Sekarang reaksi alergi terhadap antibiotika
sudah jarang terjadi, sebab tersedia banyak pilihan antibiotika yang lebih
unggul dari penisilin tanpa risiko alergi.

10. Apakah semua antibiotika hanya untuk
diminum?
Tidak. Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada
juga dalam bentuk suntikan (parenteral) , salep, krim, supositoria (dimasukkan ke
liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau
krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi
telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai
antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina (bagi yang sudah
menikah, tidak buat yang masih gadis).

Antibiotika streptomycine, garamycine, hanya dalam
bentuk suntikan, tidak tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul. Sebaliknya,
kebanyakan antibiotika yang diminum belum tentu ada dalam bentuk suntikannya.
Tapi, ada juga antibiotika baik dalam bentuk suntikan maupun yang
diminum.

Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang
sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat.
Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika
diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk
salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s